Sabtu, 30 November 2024
Intelijen Jepang Di Indonesia Selama Perang Dunia Kedua
Intelijen Jepang Di Indonesia Selama Perang Dunia Kedua
Beberapa organisasi dan badan intelijen Jepang yang beroperasi di Indonesia selama Perang Dunia Kedua antara lain sebagai berikut :
1. F-Kikan
Kantor Perhubungan Jepang yang didirikan pada tahun 1941 oleh Mayor Jenderal Fujiwara Iwaichi.
2. Hana Kikan
Organisasi intelijen Kaigun ( Angkatan Laut Jepang ) yang didirikan di Makassar, Sulawesi Selatan, yang bertugas mengumpulkan informasi tentang wilayah pendudukan Angkatan Laut Jepang.
3. Yoshizhumi
Organisasi intelijen militer Jepang yang menyamar sebagai pekerjadan saudagar Jepang toko kelontong untuk mengawasi wilayah Hindia Belanda. Mereka mengadakan kontak dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional Indonesia dan memilih untuk membantu kemerdekaan Indonesia.
Referensi : Google.com
Produk-produk Jepang Membanjiri Hindia Belanda Menjelang Perang Dunia Kedua
Produk-produk Jepang Membanjiri Hindia Belanda Menjelang Perang Dunia Kedua
Barang-barang produk Jepang masuk ke Hindia Belanda ( kini Indonesia ) pada tahun 1930an saat terjadi malaise ( krisis ekonomi dunia ). Harga barang-barang produk Jepang yang dijual di Hindia Belanda itu jauh lebih murah daripada barang-barang impor dari Eropa. Kehadiran toko-toko Jepang di wilayah Hindia Belanda menandai masuknya barang-barang murah asal Jepang ke Hindia Belanda pada tahun 1930an. Promo barang-barang murah impor dari Jepang itu sangat menggiurkan dan menguntungkan saat perdagangan ekspor lesu. Malaise pada tahun 1930an itu menyebabkan pendapatan Pemerintah kolonial Belanda menurun. Gaji pegawai pemerintah kolonial Belanda dan buruh pabrik serta buruh perkebunan dipangkas belasan persen dan juga menyebabkan pabrik-pabrik tutup.
Buruh-buruh kehilangan pekerjaan. Pada saat itu bnayak orang kehilangan daya beli. Harga-hrga barang memang turun, tapi tidak ada pendapatan untuk membelinya. Saat situsai sulit itu, banyak orang menggadaikan barang-barang mereka ke pegadaian untuk mendapatkan kas segar. Sisanya melakukan perdagangan barter. Membanjirnya barang-barang impor dari Jepang itu ikut menjamin stabilitas pasar penduduk anak negeri sebab harganya masih terjangkau. Sementara harga barang-barang impor dari Eropa semakin mahal. Pada waktu itu barang-barang produk Jepang yang harganya lebih murah mampu menggeser barang-barang produk Eropa. akan tetapi membanjirnya barang-barang impor murah dari Jepang itu mendapatkan kecaman keras dari Ir. Soekarno ( Bung Karno ) sebab menurut beliau ada pemboikotan dari Tiongkok dan dia melihat barang murah dari Jepang itu akan menjadi alat imperialisme.
Referensi :
historia.co.id.
Jumat, 29 November 2024
Sejarah Pegadaian Di Indonesia
Sejarah Pegadaian Di Indonesia
Menurut informasi yang dilansir dari pegadaian co.id dan Museum Bank Indonesia sejarah pegadaian di Indonesia saat Perusahaan Dagang Belanda Di Hindia Timur VOC ( Vereegnigde Oost Indische Compagnie ) mendirikan Bank Van Leening pada tahun 1746 sebagai lembaga keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai.
Pada tahun 1811 Pemerintah kolonial Inggris membubarkan Bank Van Leening. Pemerintah kolonial Inggris membedrikan keleluasaan kepada masyarakat untuk mendirikan usaha pegadaian.
Pada tanggal 1 April 1901 didirikan pegadaian milik negara yang pertama di Sukabumi, Jawa Barat. Pada tahun 1905 dibentuk jawatan pegadaian.
Pada tahun 1961 Jawatan Pegadaian berubah nama menjadi PN ( Perusahaan Negara ) berdasarkan pEaturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ( Perpu ) No 19 Tahun 1960 dan Peraturan Pemerintah ( PP ) No 178 tahun 1961. Pada tahun 1969 bentuk Perusahaan Negara Pegadaian berganti nama menjadi Perjan Pegadaian. Pada tahun 1990 berdasarkan Peraturan Pemerintah ( PP ) No. 10 Perjan Pegadaian yang diperbarui dalam PP No. 103 tahun 2000 berganti nama menjadi Perusahaan Umum ( Perum ).
Pada tanggal 1 April 2012 Perum Pegadaian berganti nama menjadi Persero berdasarkan PP No. 51 tahun 2011. Pada tanggal 23 September 2021 berdasarkan PP No. 71 Persero Pegadaian berganti nama menjadi Perseroan Terbatas.
Referensi
Pegadaian co.id
Museum Bank Indonesia
Kamis, 28 November 2024
Sejarah Perbankan Di Indonesia Dari Zaman Kolonial Belanda Sampai Sekarang
Sejarah Perbankan Di Indonesia Dari Zaman Kolonial Belanda Sampai Sekarang
Perbankan memiliki peran penting dalam mendukung stabilitas ekonomi dan pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Di Indonesia, sejarah perbankan telah ada sejak zaman kolonial Belanda hingga berkembang menjadi sistem perbankan modern yang kita kenal sekarang ini. Menurut informasi yang dikutip dari Museum Bank Indonesia Bank pertama yang hadir di Indonesia adalah sebuah pegadaian ( Bahasa Belanda : Pandhuis ) Bank Courant yang didirikan pada tahun 1746 oleh VOC ( Vereenigde Oost Indische Compagnie ) di Batavia. Pada saat itu juga di Batavia juga berdiri Bank Van Leening Bank ini didirikan untuk menunjang aktivitas pedagangan VOC di Hindia Belanda. Kemudian Bank Van Leening ini dimerger dengan Bank Courant menjadi Bank Courant Van Leening sebab Bank Courant tidak mampu menyaingi praktek rentenir yang diterapkan oleh VOC. Pada tahun 1790an Bank Courant en Van Leening ini ditutup karena mengalami krisis keuangan pada tahun 1818.
Bank Courant en Van Leening adalah bank sirkulasi yang mengedarkan uang kertas yang disebut Kredit Brief. Nilai uang kertas ini sama dengan nilai uang logam yang ada di kas bank. Setelah Bank Courant en Van Leening ditutup, pemerintah kolonial Belanda mendirikan De Javasche Bank ( DJB ) pada tahun 1828 yang menjadi cikal bakal Bank Indonesia. DJB diberi hak oktroi untuk mengedarkan dan mencetak uang kertas dan koin gulden di Hindia Belanda.
Setelah Indonesia merdeka, DJB dinasionalisasi menjadi Bank Indonesia pada tahun 1953.
Referensi : Museum Bank Indonesia
Metrotvnews.com.
googlebooks.com.
Sabtu, 09 November 2024
Poenale Sanctie
Poenale Sanctie
Sebelum saya sebagai penulis memberikan informasi kepada anda tentang Poenale Sanctie, perkenankan saya bertanya kepada anda Tahukah anda apakah Poenale Sanctie itu ? Poenale Sanctie adalah suatu sistem kontrak kerja yang diterapakan oleh Pemerintah kolonial Belanda di dua koloni Belanda yaitu Suriname dan Hindia Belanda ( Indonesia ) yang menjatuhkan hukuman berat kepada buruh-buruh perkebunan milik Belanda yang melanggar berupa denda, cambuk, pukulan, dan kurungan badan. Poenale Sanctie ini dibuat oleh seorang pakar hukum berkebangsaan Belanda bernama C. Th. Cremer pada tahun 1880.
Poenale Sanctie merupakan bagian dari Koelie Ordonanntie yang juga dibuat oleh C. Th. Cremer pada tahun 1880. Sistem ini memberikan kekuasaan kepada pemilik perkebunan untuk menghukum para buruh mereka dengan cara apapun yang dianggapnya tepat, termasuk polisi dan hukum. Tetapi akhirnya Pemerintah kolonial Belanda menghapuskan Koelie Ordonanntie dan Poelie Ordonanntie setelah pahlawan nasional asal Betawi ( Jakarta ), Mohammad Husni Thamrin, mengecam keras Poenale Sanctie dan Koelie Ordonnantie dalam sidang-sidang Volksraad setelah melihat langsung kondisi buruh-buruh perkebunan tembakau milik Belanda di Deli, Sumatera Utara. Kecaman keras M H Thamrin itu menyebabkan Amerika Serikat memboikot produk-produk perkebunan yang berasal dari Hindia Belanda.
Referensi :
Museum Mohammad Husni Thamrin Di Jakarta
Wikipedia
Kumparan.com.
Politik Etis
Tahukah anda pembaca apakah Politik Etis itu ? Politik Etis adalah suatu kebijaksanaan yang diterapkan oleh Pemerintah kolonial Belanda yang diterapkan di Indonesia. Politik Etis ini sering disebut sebagai politik balas budi bangsa Belanda kepada Bangsa Indonesia. Hal itu diterapkan karena siste, tanam paksa. Kebijakan poltik etis mulai diterapkan pada tahun 1901 atas gagasan seorang pakar hukum asal Belanda, C. Th. Van Deventer dalam artikelnya yang dimuat di majalah De Gids. Poltik Etis mengahruskan Pemerintah Belanda memajukan kesejahteraan masyarakat pribumi Indone4sia dengan 3 cara antara lain : 1. Irigasi 2. Pendidikan 3. Transmigrasi.
Irigasi dibangun untuk mengairi perkebunan-perkebunan milik Belanda yang ada di Indonesia dan bukan untuk mengairi sawah-sawah milik penduduk pribumi. Pendidikan dimulai dengan pengadaan sekolah untuk rakyat tetapi hanya untuk pria. Sedangkan wanita hanya boleh belajar di rumah saja. Sedangkan emigrasi ( transmigrasi ) ditujukan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang Belanda akan buruh-buruh di perkebunan milik mereka.
Referensi :
Gramedia.com
Museum Kebangkitan Nasional Jakarta
Arsip Nasional Republik Indonesia
Sabtu, 02 November 2024
Jugun Ianfu
Jugun Ianfu
Jugun Ianfu memiliki arti " wanita penghibur para tentara. Tetapi sebenarnya sebutan wanita penghibur dalam beberapa dokumen tentara Jepang disebut Teishintai yang artinya barisan sukarela penyumbang tubuh. Sebagian besar para jugun ianfu bukan wanita yang secara sukarela prajurit-prajurit Jepang. Orang-orang Jepang pertama kali mempraktikkan jugun ianfu saat menginvasi Korea sejak akhir abad ke-19 hingga 1945. Saat itu prajurit-prajurit Jepang membutuhkan nafsu pelampiasan seksual, sehingga orang Korea saat itu tidak berdaya menolak permintaan orang-orang Jepang.
Kemudian Jepang juga mempraktikkan jugun ianfu di Indonesia dan wilayah-wilayah Asia lainnya yang diduduki oleh Jepang selama Perang Dunia II. Banyak para prajurit Jepang itu menyimpan wanita-wanita simpanan daripada mengunjungi rumah bordil, sehingga mereka menebus baik perempuan Belanda totok maupun Indo-Belanda ( sebagian besar Indo-Belanda ) yang ditawan di kamp-kamp tawanan perang untuk mendapatkan rekrutan baru. Banyak di antra mereka yang hamil di luar nikah hasil hubungan dengan prajurit Jepang. Orang Belanda menyebut anak-anak itu dengan sebutan kinderen van vijand ( anak-anak musuh ), sementara para wanita Belanda totok dan Indo-Belanda yang menjadi wanita penghibur disebut troostmeisjes. Selain orang-orang Belanda totok dan Indo-Belanda, Jepang juga merekrut wanita pribumi Indonesia dari berbagai daerah untuk dijadikan wanita penghibur.
Sejak tahun 1942-1945 sekitar 10.000 wanita pribumi Indonesia menjadi jugun ianfu. Proses perekrutan jugun ianfu melibatkan perangkat pemerintahan Indonesia bentukan Jepang, mulai dari kepala desa sampai tonarigumi dengan dalih program pengerahan tenaga kerja. Mereka melakukannya dengan cara paksaan seperti tipu muslihat akan mengirim mereka belajar ke Singapura dan Jepang, mengancam, dan juga mempengaruhi calon keluarga jugun ianfu.
Target jugun ianfu adalah wanita lajang. Perempuan-perempuan Indonesia yang dipilih saat itu berusia antara 14-15 tahun. Banyak penduduk yang tidak berani menolak. Jugun Ianfu adalah salah satu bentuk kejahatan perang Jepang di Indonesia selama Perang Dunia Kedua.
Referensi :
Ensiklopedi Sejarah Indonesia.com
Pramoedya Ananto Toer. Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer. Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia ( KPG ) Jakarta.
Langganan:
Postingan (Atom)
Sejarah Kesultanan Melayu Negeri Sembilan Malaysia
Sejarah Kesultanan Melayu Negeri Sembilan Malaysia Kesultanan Melayu Negeri Sembilan adalah Kesultanan Melayu yang be...
-
Menurut informasi yang dikutip dari laman wikipedia dan riset linguistik ( ahli bahasa ) Bahasa Melayu Pontianak atau Melayu Pontia...
-
Bahasa Melayu Dialek Champa juga dikenal dengan nama Bahasa Cham. Menurut informasi yang dikutip dari laman wikiwand.com dan riset linguis...
-
Operasi Kikis adalah operasi penumpasan sisa-sisa PKI yang berada di perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur oleh Kodam IV Dipon...