Kamis, 30 Juni 2022

 Kesultanan Serdang Kesultanan Melayu Dari Sumatera Utara Yang  Dilupakan

 Wilayah Sumatera Utara adalah salah satu propinsi di Indonesia yang dihuni oleh etnis Melayu. Etnis Melayu di Sumatera Utara adalah salah satu etnis terbesar selain etnis Batak, Karo, Simalungun, Mandailing, dan Cina. Di wilayah Sumatera Utara ini terdapat beberapa Kesultanan Melayu. Salah satunya adalah Kesultanan Serdang.

 Menurut informasi yang dikutip dari kumparan.com Kesultanan Serdang merupakan pecahan dari Kesultanan Melayu Deli yang juga berasal dari Sumatera Utara. Kesultanan Deli didirikan pada tahun 1632. Sedangkan Kesultanan Serdang didirikan pada tahun 1723. Berdirinya Kesultanan Serdang bermula dari konflik internal Kesultanan Melayu Deli Serdang akibat perebutan tahta dua orang putra Sultan Deli, Tuanku Panglima Paderap, yaitu Tuanku Pasutan dan Tuanku Umar Johan Alamsyah. Tuanku Pasutan mengusir adiknya yaitu Tuanku Umar Johan Alamsyahdan ibunya yaitu permaisuri Tuanku Puan ke wilayah Serdang. Tuanku Umar Johan Alamsyah adalah pendiri sekaligus Sultan Serdang yang pertama.

 Tuanku Umar Johan Alamsyah menikah dengan Tuanku puan Sri Alam, putri Sultan Perbaungan yang kemudian bergabung dengan Kesultanan Serdang. Wilayah Serdang lainnya yang turut bergabung dengan Kesultanan Serdang yaitu adalah suatu negeri di Denai dan Serbajadi, yang dibangun oleh Tuanku Tawar Gelar Kejuruan santun, salah satu keturunan Sultan Deli.

 Kesultanan Serdang mengalami masa kejayaannya pada masa pemerintahan Sulatan Thaf Sinar bashar Shah ( memerintah tahun 1822-1851 ).  

 Pada tahun 1862 Belanda menaklukkan Kesultanan Melayu Serdang. Pada tanggal 16 Agustus 1862 Belanda dan Sultan Serdang menandatangani acte van erkenning yang menyatakan Kesultanan Melayu Serdang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Belanda. Di sisi lain, pada waktu itu Kesultanan Serdang masih bermusuhan dengan saudara sepupunya, Kesultanan Deli.

 Puncak perselihan antara Sultan Serdang dan Sultan Deli terjadi pada masa pemerintahan Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah di Kesultanan Serdang ( 1879-1946 ). Konflik itu baru mereda setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945.

   Reman Kesultanan Melayu Dari Thailand Yang Sudah Hilang

  Menurut informasi yang dikutip dari laman wikipedia Kerajaan Reman adalah sebuah Kerajaan Melayu yang terletak di perbatasan Malaysia-Thailand antara wilayah Perak Atas di Negara Bagian Perak dan Jeli di Negara Bagian Kelantan di Malaysia dengan Amphoe Reman di Provinsi Yala di Thailand Selatan. 

  Kerajaan Reman adalah suatu dari tujuh wilayah Kesultanan Melayu Patani dari Thailand yang dibagi oleh Inggris dan Thailand antara tahun 1810 dan 1902. Sultan pertama dari Kerajaan Reman adalah Tuan Mansor adalah seorang bangsawan Kesultanan Melayu Patani dari Thailand yang naik tahta pada tahun 1810.

 Menurut informasi yang dikutip dari wikipedia nama Reman diambil dari kata bahasa Melayu Patani dari Thailand rama yang serumpun dengan bahasa Melayu ramai yang artinya " majlis besar ". Sedangkan orang-orang Inggris yang menjajah bagian utara Semenanjung Malaya menyebut Reman dengan sebutan Rahman dan Rehman dan orang-orang Thailand yang menjajah Thailand Selatan mengeja Reman dengan Raman.

 Henry Burney, seorang diplomat Inggris di Thailand dan pelancong British East India Company ( Perusahaan Dagang Inggris Di India ), mencatat bahwa Reman adalah salah satu dari empat belas pemerintahan di Thailand Selatan yang membayar upeti kepada Raja Thailand melalui perwakilan mereka di Provinsi Nakhon Sri Tammarat dan Songkhla, Thailand. Dua orang Britania Raya ( Inggris ) lainnya yang mencatat tentang Kerajaan Melayu Reman di Thailand adalah Sir John Anderson ( diplomat ) pada tahun 1824 dan Gubernur Inggris di Pulau Penang, Malaysia, Sir John Bannerman pada tahun 1818.

 Kerajaan Melayu Reman didirikan pada awal abad ke-19 di atas kerajaan Melayu tetangga Pujud, Jalor, dan Legeh. Pada tahun 1810 Tuan Tok Ni Tok Leh yang juga dikenal sebagai Tuan Mansor  muncul sebagai raja tunggal Kerajaan Reman. Dia ditunjuk oleh Sultan Patani, Muhammad Raja Bakar, untuk mengelola pertambangan di wilayah selatan Thailand. 
 Pada akhir abad ke-18 dia dan para pengikutnya menetap di Dataran Tinggi Kroh di Negara bagian Perak, Malaysia, sebuah daerah yang menerima eksodus orang-orang Melayu Patani setelah Kerajaan Thailand menaklukkan Kesultanan Melayu Patani pada tahun 1785.

 Pada tahun 1810 Kerajaan Thailand membagi Kesultanan Patani menjadi 7 konfederasi kerajaan Melayu yaitu Nongcik, Reman, Legeh, Saiburi, Yaring, Yala, dan Patani dengan tujuan untuk melemahkan Kesultanan-kesultanan Melayu itu.

 Tuan Tok Ni Tok Leh dikukuhkan sebagai Raja Reman dengan wilayah kekuasaannya meliputi Sungai Pattani di Thailand hingga Sungai Mas di utara Semenanjung Malaya dan Sungai Lenggong di Thailand Selatan.

Selasa, 28 Juni 2022

                  Etnis Melayu Di Myanmar

 Menurut informasi yang dilansir dari wikipedia Etnis Melayu Myanmar disebut orang Pashu.        Mereka tinggal di Tanatheryl  ( Tanah Serim ) dan Kepulauan Mergui di Selatan Myanmar.

 Menurut informasi yang dilansir dari tirto.co.id dan wikipedia orang Melayu yang berasal dari bagian selatan Myanmar adalah keturunan etnis Melayu asal Negara Bagian Kedah, Malaysia, yang merantau ke Myanmar pada abad ke-19. Mereka adalah nelayan yang dibawa oleh seorang peranakan Arab-Melayu bernama Nayeeda Ahmed. Ada juga etnis Melayu yang berasal dari bagian utara Semenanjung Malaya lainnya dan Patani di Thailand.

 Pengaruh Melayu di bagian Selatan Myanmar terlihat jelas pada nama-nama pemukiman tertentu di Kawthung, Tanatheryl, Myanmar, seperti kampong ( Bahasa Indonesia : kampung ), ulu ( Bahasa Indonesia : Hulu ), telok ( Bahasa Indonesia : teluk ), tengah, dan pulau. 

Minggu, 26 Juni 2022


 Daftar Silsilah Sultan Kelantan Dari Malaysia

  Sultan Kelantan adalah Sultan Melayu yang memerintah di Negara Bagian Kelantan, Malaysia. Berikut ini daftar silsilah Sultan Kelantan yang dikutip dari sejarah.kelantan.com :

1. Nik Mustofa ( Ong Topouo ) ( Ong Ronan ) ( Tuk Agog ) ( Po Rome )

2. Pemangku Sultan Patani dari Thailand menjadi Raja Champa di Kamboja dan Vietnam dengan gelar Sultan Abdul Hamid Shah ( Raja Sri Sarwasadesa )

3. Nik Badrussalam Sultan Singgora ( Songkhla ) di Thailand Pengaggas Keluarga DiRaja Singgora dari abad ke-17 hingga abad ke-18 Masehi

4. Nik Ibrahim ( Po Ibrahim ) ( Ong Chai Nek ) ( Po Nrop ) Datu Kelantan ( 1634-1637 ) Raja Champa ( 1637-1684 )

5. Wan Da-Im ( Po-Top ) ( Ba Tranh ), Datu Jambi dari Patani, Thailand, menjadi Raja Champa di Kamboja dan Vietnam ( 1684-1692 ) pindah ke patani, Thailand, menjadi Datu Jambu.

6. Tuan Sulung Datu Kelantan Barat ( 1698-1713 )

7. Long Bahar Sultan Patani dari Thailand hingga 1715

8. Long Nik dari Patani, Thailand.

9. Long Muhammad Sultan Kelantan Barat ( 1717-1757 )

10. Long Pandak Sultan Kelantan ( 1757-1763 )

11.  Log Punug Datu Pujud Sultan Patani dari Thailand memerintah mulai memerintah di Kesultanan Kelantan pada 1749. 

 12. Long Nik Datu Pud dai Patani, Thailand.

 13. Long Abdulrahman Baginda Raja Legeh Raja Tuan Besar Sultan Kelantan ( wafat 1749 ).

 14 . Long Sulaiman Sultan Kelantan ( 1735-1739 ) ( 1746-1756 ).

 15. Raja Yunus Sultan Patani dari Thailand ( wafat 1749 )

 16. Nik Ali Panglima Agung Kesultanan Melayu Patani dari Thailand. Beliau pergi ke Sulawesi Selatan, Indonesia, bersama ratusan tentara Kesultanan Melayu Patani untuk merebut kekuasaan orang Bugis di sana. Kemudian pulang ke Patani, Thailand, untuk mengambil orang-orang lagi tapi kemudian beliau meninggal di Patani. Beliau adalah leluhur " Kaum Nik " yang tinggal di Negara Bagian Kelantan dan Terengganu di Malaysia serta Patani di Thailand.

17. Long Yunus Sultan Kelantan ( 1765-1794 )

18. Putri Cek Ku Tuan Nawi.

19. Long Muhammad Sultan Kelantan ( Sultan Muhammad I ) Sultan Kelantan ( 1837-1886 ).

20. Raja Temenggong

21. Raja Banggol

22. Raja Kampung Laut 

23. Long Ahmad ( Raja Bukit )

24. Long Yusuf

25. Sultan Muhammad II ( 1837-1886 )

26. Sultan Tengah Sultan Kelantan ( 1837-1886 )

27. Sultan Muhammad Sultan Patani dari Thailand yang terakhir memerintah di Kesultanan Kelantan hingga tahun 1921

28. Sultan Muhammad III  Sultan Kelantan ( 1880-1890 )

29. Sultan Muhammad IV 9 1899-1920 )

30. Sultan Ismail ( 1920-1944 )

31. Sultan Ibrahim ( 1944-1960 )

32. Sultan Yahya Petra ( 1960-1979 )

33. Sultan Ismail Petra ( 1979-2011 )

34. Sultan Muhammad V ( 2011-sekarang ). 

Catatan : Menurut berbagai referensi di internet Sultan Kelantan dari Malaysia ini masih mempunyai hubungan keluarga dengan Sultan Patani dari Thailand oleh sebab itu banyak Sultan Patani yang memerintah di Kesultanan Kelantan.

Sabtu, 25 Juni 2022


 Sejarah Masuknya Islam Di Patani Thailand

  Patani merupakan provinsi yang berada di Selatan Thailand. Letaknya berada di perbatasan Thailand-Malaysia. Mayoritas penduduknya penduduknya adalah etnis Melayu dan menganut Islam. Selain etnis Melayu, di Provinsi juga terdapat etnis Siam ( Thailand ) yang menganut agama Budha. Maka tak heran di sini terdapat masjid dan juga pagoda. Di Selatan Thailand ini sering terjadi konflik antara etnis Melayu Patani dengan Pemerintah Thailand karena etnis Melayu Patani di diskriminasi oleh pemerintah Thailand dan Pemerintah Thailand menganggap wilayah Thailand Selatan sebagai koloni Thailand sejak tahun 1785. Keadaan itu semakin memanas ketika Inggris mengakui kekuasaan Thailand atas tujuh provinsi di Thailand Selatan sebagai koloni Thailand berdasarkan Perjanjian Inggris-Thailand tahun 1826 dan 1909. Sebagai timbal baliknya Thailand menyerahkan Kelantan, Kedah, Perlis, dan Terengganu di Malaysia kepada Inggris.

 Setelah berhasil menaklukkan Kesultanan Melayu Patani, pada tahun 1808 Raja Thailand membagi Kesultanan Melayu Patani menjadi tujuh negeri Melayu yaitu Reman, Nongcik, Teluban, Yala, Patani, dan Legeh dengan tujuan untuk melemahkan Kesultanan Melayu. Meskipun Thailand berhasil menaklukkan Thailand Selatan dengan bantuan Inggris, perlawanan rakyat Melayu setempat di bawah pimpinan para Sultan Patani dan Ulama setempat yang dibantu oleh para Sultan Melayu yang berasal dari Semenanjung Malaya terhadap Kerajaan Thailand terus berlanjut. Namun sayangnya, dengan bantuan Inggris Raja Thailand berhasil mengalahkan mereka.

 Menurut informasi yang dikutip dari republika.co.id agama Islam masuk ke Patani, Thailand, pada abad ke-12 Masehi. Para saudagar Arab, Persia, India, dan juga para ulama asal Aceh, Indonesia, adalah para penyebar agama Islam di Patani, Thailand, ini. Hal ini dibuktikan dengan temuan sejumlah Al-Qur`an kuno dari Aceh, Indonesia,  yang disimpan di sebuah pesantren di Selatan Thailand, nisan beraksara Arab di sebuah kampung di Patani, dan sejumlah masjid tua yang ada di Patani.

 Tanggung jawab urusan agama Islam di Patani, Thailand, diserahkan kepada seorang mufti yang bergelar syaikhul Islam ( Bahasa Thailand : Chularajmontree ). Mufti ini berda di bawah Kementerian Dalam Negeri Thailand dan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Thailand. Mufti itu bertugas mengatur kebijakan yang berhubungan denhgan kehidupn mat Muslim seperti penentuan awal dan akhir kalender hijriyah.

 Menurut data statistik dan yang dilansir dari republika.co.id jumlah penduduk Muslim di Thailand sekitar 4 juta jiwa dari 65 juta penduduk Thailand. Agama Islam adalah agama terbesar kedua di Thailand setelah agama Budha. 

 Saat ini banyak mahasiswa asal Patani, Thailand, yang kuliah di sejumlah UIN ( Universitas Islam Negeri ) di Indonesia. Selama tinggal di Indonesia, mereka tidak menemukan masalah komunikasi dengan penduduk setempat karena Bahasa Melayu Standar mereka serumpun dengan Bahasa Indonesia serta masih memelihara tradisi budaya Melayu Patani seperti mengenakan teluk belanga, songket, dan baju kurung.

 Referensi :

Republika 

Jumat, 24 Juni 2022

  Daftar Silisilah Sultan Melayu Brunei Darussalam

 Menurut informasi yang dikutip dari jurnalsoreang.pikiranrakyat.com dan wikipedia Sultan Brunei Darussalam adalah kepala negara Brunei Darussalam. Berikut ini garis keturunan Sultan Brunei Darussalam yang dikutip dari jurnalsoreang.pikiranrakyat.com dan wikipedia :

1. Muhammad Shah ( Awang Alak Betatar ) (1363-1402 ), pendiri Kesultanan Melayu Brunei darussalam asal Minangkabau dan putra Sultan Kedah dari Malaysia, Ibrahim Shah.

2. Ahmad ( 1408-1425 ), putra Sultan Muhammad Shah.

3. Sharif Ali ( 1425-1433 ), orang Arab, menantu Sultan Ahmad

4. Sulaiman dari Brunei ( 1433-1473 )

5. Bolkiah ( 1473-1521 )

6. Abdul Kahar ( 1521-1575 )

7. Saiful Rijal ( 1525-1600 )

8. Shah Berunai ( 1600-1605 )

9. Hassan ( 1605-1619 )

10.Abdul Jalilul Akbar ( 1619-1649 )

11.Abdul Jalilu Jabbar ( 1649-1652 )

12.Muhammad Ali (1652-1660 )

13.Abdul Hakkul Mubin ( 1660-1673 )

14.Muhyiddin ( 1673-1690 )

15.Nasruddin ( 1690-1705 )

16. Hussin Kamaluddin ( 1705-1730, 1745-1762 )

17.Muhammad Alauddin ( 1730-1745 )

18.Omar Ali Saifuddin I ( 1762-1795 )

19.Muhammad Tajuddin ( 1796-1807 )

20.Muhammad Jamalul Alam I ( 1806-1807 )

21.Muhammad Kanzul Alam ( 1807-1829 )

22.Muhammad Alam ( 1825-1828 )

23.Omar Ali Saifuddin II ( 1829-1852 )

24.Abdul Momin ( 1852-1885 )

25.Hashim Jalilul Alam Aqamuddin ( 1885-1906 )

26.Muhammad Jamallul Alam II ( 1906-1924 )

27.Ahmad Tajuddin ( 1924-1950 )

28. Omar Ali Saifuddin III ( 1950-1967 )

29.Hassanal Bolkiah ( 1967-sekarang )

Perlawanan Bangsamoro Terhadap Amerika Serikat Di Filipina Bagian 2

  Pada tahun 1905 Amerika Serikat mengeluarkan The Mining Law ( Undang-Undang Pertambangan ). Isi perjanjian itru menyebutkan semua tanah yang diakui sebagai milik Amerika Serikat, maka tanah itu bebas dieksplorasi untuk tambang sebagai modal. Amerika Serikat menjadi semakin agresif menekan Sultan Sulu dan Mindanao melalui Undang-Undang Kolonisasi Quino Recto tahun 1935. Kemudian Amerika Serikat membangun pemukiman Kristen yang datang dari wilayah utara Filipina di Filipina Selatan. Tujuan Amerika Serikat yaitu hendak meluruhkan situasi homogen dan keunggulan Muslim di Mindanao. Jadi kesimpulannya konflik antaea Bangsamoro melawan Amerika Serikat disebabkan karena masalah pertanahan dan juga izin membuka tambang.

 Penduduk Kristen dari wilayah utara Filipina dipermudah untuk memperoleh tanah di Filipina Selatan. Hal ini mendorong migrasi penduduk orang Filipina Kristen ke wilayah Filipina Selatan. Amerika Serikat kemudian membentuk Provinsi di Filipina Selatan yang disebut Moro Land. Alasannya untuk memberikan arahan ke masyarakat modern. Akibatnya terjadi pertempuran antara Bangsamoro melawan Amerika Serikat yang berakhir dengan kemenangan Amerika Serikat. 

 Referensi 

Republika.co.id

Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam Di Aceh

Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam Di Aceh Kesultanan Aceh Darussalam adalah suatu kerajaan Islam ya...